Sindikat Uang Palsu Dibekuk

Posted: 11 September 2011 in Hukum dan Kriminal

SLAWI, METROPOLIS POS – Luar biasa! Selama berlangsungnya Operasi Kemanusiaan Ketupat Candi 2011, jajaran Reskrim Polres Tegal berhasil menggulung kawanan pembuat uang palsu di Desa Kedungkelor RT 01/ RW 01 Kecamatan Warurejo. Dari hasil pengerebekan itu, polisi menemukan sejumlah piranti pembuat uang palsu, berikut lembaran upal yang belum sempat diedarkan berupa lembaran upal Rp 50.000, Rp 20.000, dan Rp 5000 dengan total Rp 16.105.000.

Kapolres AKBP Nelson Pardamian Purba SiK didampingi Paur Subbag Humas Ipda Wahyono dan Kasat Reskim AKP Rudi Wihartana SH menyatakan terkuaknya keberadaan home indusri pembuatan uang palsu ( upal) tersebut berangkat dari informasi masyarakat sekitar dan tertangkapya pengedar yang hendak meukarkan upal disebuah toko. “Aksi penangkapan kita lakukan pada 23 Agustus 2011 sekitar pukul 01.00 WIB dirumah makan Sampurna Desa Demangharjo. Disana petugas berhasil menangkap aktor pembuat upal Suratmo ( 44) warga Desa Kedungkelor RT 01/ RW 01 Kecamatan Warurejo,” terangnya Kamis ( 25/8). Dari penangkapan itu petugas melakukan pengeledahan dirumah tersangka, dan didalam kamar rumahnya ditemukan puluhan piranti pembuat upal.

Barang bukti piranti yang berhasil diamankan petugas tercatat seperangkat komputer untuk mengedit dan mencetak mata uang palsu. “Petugas juga berhasil menyita seperangkat alat sablon yang digunakan untuk memberikan gambar bayangan didalam uang hasil cetakan yang selanjutnya direkatkan menjadi satu bagian utuh uang,” cetusnya. Dalam pengrebekan itu petugas juga turut mengamankan seperangkat alat potong yang digunakan untuk memotong hasil cetakan uang dan memasukkannya benang dalam uang, satu buah sterika, satu buah hairdryer, 109 lembar cetakan belum jadi pecahan Rp 5.000, 205 lembar hasil cetakan belum jadi uang pecahan Rp 50.000, 49 lembar hasil cetakan belum jadi pecahan Rp 20.000,  24 lembar cetakan sudah jadi dan siap edar pecahan Rp 50.000, satu bendel potongan kertas dooslist, 9 lembar cetakan gagal uang pecahan Rp 20.000, dan 59 lembar hasil cetakan gagal uang pecahan Rp 50.000.

“Dari hasil interogasi tersangka didapat keterangan dalam pembuatan upal dilakukan bersama  Sujianto ( 25) yang bertempat tinggal di Jalan Gatot Subroto RT 01/ RW 01 Kelurahan Bojongsana Pemalang. Aksi penjemputan pun segera dilakukan petugas disana,” ujarnya. Berdasarkan hasil penyelidikan diperoleh keterangan tersangka telah membuat upal tersebut sejak satu tahun terakhir ini. Dia membuat upal dengan cara menscanner uang kertas asli bolak- balik disetiap sisi uang tersebut. Selanjutnya hasil scanner dimasukkan kedalam komputer dan diedit dengan menggunakan program photoshop sehinga menghasilkan gambar kedua sisi mata uang dengan posisi atas bawah dan selanjutnya hasil gambar tersebut dicetak melalui printer dengan menggunakan kertas doosslet. Uang kertas hasil printer tersebut dengan menggunakan sablon diberi gambar bayangan kemudian diberi lem campuran omega dengan mono tinta PVC dan direkatkan menjadi bagian mata uang kertas utuh dan diberi benang pengaman yang dibuat dari kertas kad warna ungu yang sudah dipotong tipis.

Selanjutnya dengan sterika lisrik bagian akhir mata uang kertas hasil cetakan dipotong sesuai dengan ukuran mata uang kertas menyerupai aslinya , dan untuk pemberian nomor seri uang hasil cetakan mengikuti nomor seri mata uang asli yang discanner.  “Cara pengedaran upal dilakukan dengan cara dibelanjakan barang ditoko yang ada diwilayah Pekalongan, Tegal, dan Purwokerto. Sebelumnya kami sempat menangkap  Wage Tarjona ( 41) warga Desa Kertayasa RT 02/ RW 01 Kecamatan Kramat yang diringkus disebuah toko kawasan Desa Sidoharjo Kecamatan Suradadi ketika membelanjakan upal disebuah toko,” tegasnya. Dan untuk pembagian keuntungan sendiri , setiap lembar upal yang berhasil dibelikan barang ditoko kembaliannya dipotong Rp 5.000 untuk ongkos produksi dan sisanya dibagi dua . Satu bagian untuk sang pembuat dan satu bagian untuk yang mengedarkan.

“Dalam kasus ini ketiganya bakal dijerat pasal 244 dan 245 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Dengan beredarnya upal ini kami tugaskan unit satgas Gakkum untuk mencari secara detail keberadaan upal yang terlanjur tersebar ditengah masyarakat,” tegasnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s