Disinsentif Bisa Picu Menjamurnya Ponsel Black Market

Posted: 12 September 2011 in Teknopolis

ist

Jakarta – Rencana insentif dan disinsentif yang dikemukakan Kementerian Perindustrian dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dinilai kontra produktif dan bisa memicu tumbuhnya penjualan ponsel melalu pasar gelap (black market).

“Niatnya sangat mulia, namun saya sayangkan kebijakannya terkesan emosional dan kurang cerdik,” komentar Sutikno Teguh, salah satu praktisi bisnis perangkat telekomunikasi, kepada detikINET, Jumat (9/9/2011).

Sebelumnya diberitakan, pemerintah mengaku gerah dengan para produsen ponsel besar yang tak mau membangun pabriknya di Indonesia. Contoh teranyarnya adalah Research in Motion (RIM) yang lebih memilih Malaysia. Padahal, Indonesia merupakan basis pengguna terbesarnya di kawasan Asia.

Karena Indonesia kurang dilirik untuk berinvestasi dan para produsen ponsel itu lebih memilih menjadikan Indonesia sebagai pasar saja, akhirnya keluarlah wacana insentif dan disinsentif tersebut.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi mengatakan upaya memberikan disinsentif kini sedang dibahas lintas kementerian. Cara ini dianggap akan ampuh menarik produsen ponsel kelas dunia untuk membangun pabriknya di Indonesia.

“Produsen besar belum mau, seperti Nokia, Samsung, Sony, BlackBerry, mau nggak mereka buat di sini? Sudah kita sampaikan sejak lama, tapi belum ada (tanggapan) juga,” kata Budi kepada detikFinance.

Menurut Budi, pasar Indonesia yang per tahunnya mampu menyerap 30 juta ponsel sudah sepantasnya menjadi basis produksi dari para pabrikan ponsel tersebut.

“Dari sisi regulasi pemerintah tak membedakan merek satu dengan yang lain, itu tidak boleh. Kita ingin mereka buat di Indonesia, karena bisa menambah lapangan kerja. Kalau mereka tak mau juga kita buat peraturan, kita buat mereka supaya bangun pabrik di sini,” katanya.

Menurut Sutikno, kebijakan ini bisa menjadi kontra produktif jika tidak melibatkan departemen lain seperti Kementerian Kominfo dan Kementerian Keuangan.

“Kebijakan tersebut justru akan mengganggu distributor resmi yang jujur dan akan memicu maraknya paralel import alias black market,” demikian ia mengkuatirkan.

“Tampaknya, rencana penerbitan Kepmen didorong dengan rasa sakit hati gara-gara RIM bikin pabrik di Malaysia. Lebih baik jangan buat Kepmen yang terkesan balas dendam dan gertak sambal saja, karena akan mempermalukan kewibawaan pemerintah Indonesia,” ujarnya lebih lanjut.

Ia menilai, ada cara yang lebih mudah untuk pengamanan pajak dan mendorong iklim investasi, yakni dengan melakukan pengawasan peredaran ponsel tersebut di hulu dan hilir perdagangan.

“Misalkan dengan memonitor aktivasi dan peredaran handset BlackBerry di operator telekomunikasi yang jadi wewenang Kominfo. Jadi tidak perlu bikin macam-macam aturan yang sangat mudah disiasati dan dilecehkan oleh para oknum lapangan, apalagi hal tersebut pernah terjadi pada 1995-2000,” paparnya.

GM Device Bundling Management Telkomsel Heru Sukendro, mengaku belum mempelajari soal rencana pemberian insentif dan disinsentif yang diwacanakan pemerintah. Namun menurutnya, rencana itu tak akan merugikan operator.

“Soal dampak insentif dan disinsentif ini, lebih baik ditanyakan langsung ke vendor ponsel terkait. Yang pasti, kita tidak terkena dampaknya karena hanya menjual jasa layanannya saja,” kata dia.

BlackBerry dan sejumlah ponsel lainnya, menurut dia, juga sudah bukan lagi merupakan barang mewah karena di pasar ada yang sudah tersedia dengan harga di bawah Rp 2 juta.

“Pengguna BlackBerry juga sudah dari semua kalangan mulai dari anak-anak hingga orangtua,” tandasnya. (dtc)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s