Archive for the ‘Hukum dan Kriminal’ Category

TABRAKAN beruntun melibatkan lima kendaraan terjadi di Jalan  Dr  Wahidin Sudirohusodo Kelurahan Sumurpanggang Kecamatan Margadana Kota Tegal. Tepatnya di depan traffic light menuju Terminal Bus Tegal, Jumat (16/9), sekitar pukul 15.30. Peristiwa ini mengakibatkan empat kendaraan masing-masing dua mobil pribadi, satu truk colt diesel, dan sebuah bus mengalami rusak berat.

Menurut informasi yang diperoleh Radar, penyebab tabrakan diduga akibat rem truk yang disopiri Mastari (35) blong. Meski sudah berusaha mengerem, truk nopol B-9931-QD yang melaju dari barat tetap nylonong. Akibatnya truk malang yang mengangkut pakan ternak itu menabrak kendaraan di depannya. Pertama yang diseruduk Isuzu Panther nopol E-1151-S. Lalu Panther menabrak Toyota Kijang nopol G-9000-QR. Kendaraan pribadi ini menabrak truk nopol H-1304-SW. Dalam keadaan panik, truk yang dikendarai Mastari menyerempet Bus Haryanto nopol AA-1616-M. Semua kendaraan korban waktu itu dalam posisi berhenti. Sebab lampu pengatur lalu lintas menyala merah.

Salah satu korban tabrakan beruntun warga Kabupaten Brebes, Slamet Budi Santoso, sekaligus pemilik Isuzu Panther mengatakan, kalau kendaraannya saat itu sedang berhenti. “Mobil saya itu sedang berhenti, lalu ditabrak dari belakang,” ucapnya polos. Akibatnya, bagian depan dan belakang mobilnye rusak parah.

Sementara sang sopir truk, Mastari, ketika dikonfirmasi mengakui bahwa rem kendaraannya blong. “Saya sudah berusaha melakukan pengereman. Namun truk tetap tidak berhenti. Remnya blong,” tuturnya. Padahal sejak berangkat dari Cirebon, semuanya berjalan lancar dan tidak ada masalah. Apalagi baru saja ganti ban. Tapi malang, ternyata remnya malah yang blong.

Ketika ditanya kemungkinan dirinya mengantuk, apalagi kedua matanya nampak merah, dia pun membantah. “Namanya saja sopir, Mas,” imbuh Mastari.

Sekadar diketahui, tabrakan beruntun tersebut langsung ditangani Sat Lantas Polres Tegal Kota. Kasusnya kini masih dalam penyelidikan. Seluruh kendaraan baik yang  menabrak maupun ditabrak, sore itu dibawa ke Mapolres. (

Iklan

BREBES, METROPOLISPOS – Tindak asusila dilakukan oleh salah satu guru di Kabupaten Brebes. Budiman Tanto (34) yang merupakan guru seni budaya di salah satu MTs Tonjong dengan tega telah mencabuli siswa didiknya sendiri.

Bahkan tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tindakan tersebut juga dilakukan pula di ruang guru. Guna mempertanggungjawabkan tindakannya tersebut, saat ini pelaku mendekam di tahanan Mapolres Brebes.

Saat diperiksa di unit PPA Polres Brebes Jumat (16/9), Budiman mengaku, tindakan tersebut dilakukan sebanyak tiga kali. Bahkan pertama kali tindak asusila tersebut dilakukannya pada bulan Desember 2010. Selain mencabuli, dirinya juga pernah menyetubuhi korban. Agar korban tidak hamil, maka dirinya meminta korban meminum obat yang dianggapnya bisa mencegah kehamilan.

Agar mau melayani hasratnya, pelaku juga kerap memberikan hadiah kepada korban yang saat ini masih berusia 14 tahun. “Saya pernah memberikan jam tangan dan gelang tangan agar korban suka sama saya,” ujarnya.

Ia mengaku, tindakan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka.

Sementara itu, Kapolres Brebes AKBP Kif Aminanto SIK melalui Kasat Reskrim AKP Sugeng SH mengatakan, penangkapan terhadap tersangka dilakukan setelah sebelumnya pihak orang tua korban melaporkan tindakan tersebut ke Polsek Tonjong dan selanjutnya diteruskan ke Mapolres Brebes. Saat itu juga pihak Polres Brebes langsung melakukan penyelidikan terhadap pelaku.

Sugeng mengaku, dari hasil pemeriksaan, tersangka mengaku telah melakukan tindak pencabulan terhadap korban di ruang kelas dan di ruang guru seusai pelajaran ekstrakurikuler. Selain itu, untuk memuluskan tindak kejahatannya tersebut, pelaku juga kerap memberikan hadiah kepada korban. Atas tindakannya tersebut, tersangka dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dengan acaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sidang Lanjutan Bupati Tegal

Posted: 15 September 2011 in Hukum dan Kriminal

Saksi kasus Jalingkos dimintai keterangan hakim tipikor Semarang.

SEMARANG– Pengalihan beban tetap Rp 8 Milyar (M) menjadi pengisian kas atau beban sementara. Untuk pengadaan tanah menjadi tanggung jawab pengguna anggaran. Karena yang mengajukan permohonan tersebut adalah pengguna anggaran. Dalam hal ini adalah Sekda yang pada waktu itu dijabat oleh H Moh Heri Soelistiywan SH Mhum.

Hal itu terungkap saat sidang lanjutan kasus pidana korupsi Jalur Lingkar Kota Slawi (jalingkos) yang didakwakan terhadap H Agus Riyanto SSos MM, Selasa (13/9) di Pengadilan Negeri TipikorSemarang.

Sidang lanjutan dengan agenda meminta keterangan saksi dari tiga orang, yakni Hartanto, Nani Lestrai dan Suparto, terlihat sangat terharu. Karena salah satu dari ketiga saksi tersebut, Suparto, menangis ketika ditanya terkait rekannya yang pernah menjadi saksi juga pada kasus Jalingkos dengan terdakwa Edy Prayitno, yakni Cahyono yang sekarang sudah meninggal dunia.

Dari keterangan kedua saksi, yakni Hartanto dan Nani Lestari menjelaskan tentang penggunaan anggaran dari beban tetap menjadi pengisian kas atau beban sementara, yakni karena ada ajuan dari pengguna anggaran yakni Sekda, yang pada ssaat itu dijabat Heri Soelitiyawan dan sekarang menjadi wakil Bupati tegal.

Menurut Hartanto, yang pada tahun 2006 menjadi kepala BPKAD, anggaran APBD yang direncanakan untuk jalur Lingkar Kota Slawi (Jalingkos) sebesar Rp 15 Milyar (M). Dana diajukan dari pengguna anggaran kepada BPKAD, sebesar Rp 8 M untuk keperluan pengadaan tanah di tiga kecamatan dan dirubah dari pembayaran beban tetap menjadi pengisian. Sementara tahun 2007 tidak diambil. Hal ini karena beban tetap misalkan dicairkan harus menyiapkan SPJ dahulu. Sementara kalau pengisian kas, langsung disalurkan dari kas daerah diberikan melalui rekening pemegang kas, yakni Cahyono

Pertanyaan dari pengacara terdakwa kepada Hartanto, terkait  klarifikasi yang dilakukan pemkab dengan bank jateng, dirinya mengaku tidak mengikutinya.

Saksi kedua, Nani Lestari yang pada saat tahun 2006 menjadi Kabag Perbendaharaan BPKAD Kabupaten Tegal memberikan keterangan yang sama dengan Hartanto, kaitabnya dengan pengalihan anggaran beban tetap menjadi pengisian kas. Namun, dirinya yang pada saat itu melakukan kinerja sesuai dengan tupoksinya, yakni menguji kebenaran SPP yang disiapkan dari pengguna anggaran, dengan dilampiri bebepara hal yang bekaitan dengan pengajuan.

Menurutnya, pada tahun 2006, ia meneliti ajuan anggaran sebesar Rp 8 milyar, yang diberikan dari kas daerah dimasukkan ke rekening pemegang kas, yaitu Cahyono. Sementara pada tahun 2007 untuk pengadaan tanah di Desa Dukuhsalam, juga telah diajukan dan direalisasikan sebesar Rp 4 milyar lebih. Kaitan dengan res area Margasari itu tidak masuk dalam anggaran Jalingkos.

Hartanto dan Nani tidak menemukan atau tidak melihat ada kejanggalan terkait penggunaan anggaran Lalingkos yang sebesar Rp 8 M tersebut. Sementara, saksi ketiga, Suparto, bendahara pengeluaran pembantu tugasnya mempertanggung jawabkan bukti-bukti yang telah ditandatangani oleh para pemilik tanah.

Ia menjelaskan, pada tahun 2006 direalisasikan Rp 8 M, tahun 2007, Rp 4 Milyar lebih, untuk Desa Harjosari, Kendalserut, dan Desa Dukuhsalam, sisa masih ada di Kasda.

Ia membayarkan dilimadesa, yakni, Desa Trayeman, Procot, Curug, Kagok, Penusupan, Total Rp 5 Milyar lebih. Khusus untuk Dukuhsalam dirinya tidak membayarkan. Ia mengaku pada saat itu, Budi Haryono memberikan konsep kepadanya yang sudah dibayarkan untuk Desa Dukuhsalam, yang diberikan tanggal 31 Desembar 2006, di kantor bagian keagrariaan. Setelah tiga hari kemudian, sudah ada tandatangan pemilik tanah, maka dirinya langsung meng-SPJ-kan.

Ia mangaku tidak pernah meminta berita acara atau tandatangan kepada petani atau pemilik tanah di Desa Dukuhsalam.  “Coba tanyakan saja kepada Pak Budi,” katanya saat menjawab pertanyaan dari pengacara terdakwa.

Sebagai pemegang kas pembantu, lanjut Suparto, pernah mengambil dari pemegang kas (Cahyono) Rp 1 miliar. Hal itu karena diperintah oleh budi haryono untuk dimasukan ke rekeningnya Rp 40 juta, diambil oleh Budi, lalu diberikan kwitansi Rp 500 juta rupiah. Sisanya Rp 200 juta masuk ke rekeningnya (Suprapto).

Dari saksi yang direncanakan lima orang, yakni Hartanto, Nani Lestari, Suprapto, dan dua orang dari bank Jateng yakni Sugianto dan pimpinan bank Jateng lainnya. Hanya tiga saksi yang menjadi saksi. Hal itu karena salah satu hakim sedang sakit, dan ruangannya akan dipakai. Sementara sidang akan dilanjutkan pada hari Senin (19/9), yang rencanya akan dihadirkan tiga orang saksi, yakni Edy Prayitno, Moh Budi Haryono, dan Aryani Wulandari.

PEMALANG – Penganiayaan yang terjadi antara sekelompok pemuda Desa Wanarejan Utara dan pemuda Kelurahan Pelutan pada Sabtu (3/9) lalu yang mengakibatkan satu orang tewas. Dari persoalan tersebut polisi kini berhasil menciduk 5 pemuda yang ditetapkan sebagai tersangka.

Peristiwa tersebut diawali ketika pemuda asal Desa Wanarejan Utara Kecamatan Taman yaitu Budi Margodoyo (21), Musrifin (19), dan Tohari (20) dipukul oleh pemuda dari Kelurahan Pelutan Kecamatan Pemalang di alun-alun pasca lebaran kemarin.

Merasa tidak terima, sekelompok pemuda Wanarejan yang dipimpin Tohari tersebut mendatangi pemuda yang telah memukulinya untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan. Dia adalah Davit Riyanto (14) dan Riko Aryanto (16) di gang 1 Jalan Raflesia kelurahan Pelutan.

Ketika sekelompok pemuda Wanarejan tersebut menanyakan keberadaan David dan Riko kepada pemuda yang di Pelutan tidak dikasih jawaban. Justru pukulan yang didapatnya. Karena, jumlah yang tidak seimbang, akhirnya sekelompok pemuda Wanarejan itu memilih kabur. Namun sial yang dialami Budi Wargodoyo (21). Dia tertinggal dan dipukuli hingga tewas.

Kapolres Pemalang AKBP Drs Sofyan Nugroho SH Melalui Kasat Reskrim AKP Asnanto SH mengemukakan, persoalan yang dilakukan sekelompok pemuda itu merupakan kesalahpahaman pada waktu ada keramaian di alun-alun pasca lebaran kemarin, yaitu pemuda Wanarejan dipukul oleh pemuda Pelutan.

Dari lima tersangka tersebut yakni,David Riyanto (14), Danu Prayogo (15),Aziz Rifana (17), Riko Ariyanto (16), dan Nurochim (19). Mereka semua dari pemuda asal Pelutan, dan pelaku lainya saat ini sedang dalam pengejaran petugas.

“Pemukulan tersebut merupakan salah paham pemuda antar desa. Modus yang dilakukannya dengan cara menyekap korban hingga jatuh dan memukulinya beramai-ramai. Saat itu sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong,” ungkapnya Senin (12/9).

Atas perbuatanya, tersangka kini mendekam di tahanan Polres Pemalang, dan mereka akan dijerat dengan pasal 170 KUHP karena melakukan penganiayaan secara bersama-sama.(

Kecelakaan Karambol, 2 Kritis

Posted: 13 September 2011 in Hukum dan Kriminal

PETARUKAN – Kecelakaan karambol terjadi di Jalan Raya Widodaren Kecamatan Petarukan, Minggu (11/9). Dalam kejadian tersebut, dua orang mengalami kritis karena luka berat dan dilarikan ke rumah sakit. Satu unit sepeda motor mengalami ringsek dan bus Dewi Sri serta mobil pick up mengalami kerusakan di bagian depan.

Dalam kejadian itu, saksi mata Bambang Iryandi (45) warga Pesucen mengatakan, kecelakaan karambol berawal ketika sepeda motor Honda Mega Pro No.Pol R-2986-M melaju dari arah timur dan berhenti di tempat penyeberangan depan pasar Pesucen. Karena, kondisi penyeberangan terlalu sempit.

Sepeda motor yang ditumpang suami istri serta anaknya yang masih kecil itu terserempet kendaraan yang dari arah timur yaitu bus Dewi Sri No.Pol G-1679-BE. Sebelum menambrak motor, bus tersebut sempat membunyikan klakson tiga kali dan melakukan pengereman. Namun karena waktu itu kendaraan padat dan kecepatan tinggi kecelakaanpun tidak terhindarkan. Motor dan pengemudinya terpental hingga 20 meter. Motor yang ditabraknya sempat terlindas hingga tangki bahan bakarnya ringsek.
Setelah melindas motor, lanjut dia, bus Dewi Sri yang dikemudikan Muji (46) membanting setir ke kanan jalan dengan menabrak trotoar karena jalur kanan yang berlawanan arah tersebut dalam kondisi kosong. Tapi naas, bus tersebut tidak bisa melakukan pengereman dengan baik hingga menyerempet truk tangki dan menabrak mobil pick up No.Pol G-1716-UP yang dikemudikan Bagyo Sutoyo (42).

“Kecelakaan terjadi sangat cepat. Menurut saya, dengan cara membanting setir ke kanan bus tersebut sangat tepat. Sebab, jika hanya mengandalkan pengeremanan dan tetap pada jalur tersebut, maka pengendara motor berikut yang membonceng serta anak kecil akan terlindas ban bus, dan yang pasti fatal nantinya,” ucap Bambang Iriyandi yang melihat kejadian itu.

Dengan dibantu warga, pengendara sepeda motor yang terpental dan mengalami luka di kepalanya itu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan sampai berita ini diturunkan belum diketahui identitasnya.

Menurut Informasi yang dihimpun Radar, pengendara motor tersebut suami istri dan anaknya yang masih kecil berasal dari Purwokerto yang akan menghadiri resepsi pernikahan di Desa Pesucen.

Korban Calo PNS Lapor Polisi

Posted: 13 September 2011 in Hukum dan Kriminal

SLAWI – Merasa dikelabuhi oknum PNS yang mampu menghantarkannya menjadi CPNS, memaksa Agus Riyanto (34) warga Desa Pangkah RT 04/ RW 06 Kecamatan Pangkah melaporkan  EK (35) PNS pemkab yang juga warga Slawi bersama rekannya EW (50) warga Desa Kalisapu ke Mapolres Tegal. Korban didampingi penasehat hukumnya, H Sigit Kusumajaya SH mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian

(SPK) Mapolres Tegal Sabtu (10/9) sekitar pukul 10.00 WIB.
Kapolres AKBP Nelson Pardamian Purba SiK didampingi Paur Subbag Humas Ipda Wahyono dan Kasat Reskrim AKP Rudi Wihartana SH mengakui laporan penipuan tersebut saat ini telah didalami pihaknya. “Langkah berikut yang hendak kami tempuh adalah pemanggil tersangka untuk dimintai keterangan terkait aduan dari korban,” cetusnya, Senin ( 12/9).

Dalam laporan awal terkuak korban sempat dijanjikan menjadi PNS dan akan ditempatkan di kantor pemda oleh EW. Untuk memudahkan hal tersebut korban sempat diminta menyerahkan uang untuk mempercepat proses pengangkatan PNS.  “Korban sempat menyerahkan uang senilai Rp 10 juta pada pelaku pada interval waktu 17 Desember 2009. Namun korban sempat curiga setelah pembayaran itu dirinya tak juga diangkat menjadi PNS. Pelaku pun menjanjikan kepastian pada korban untuk segera diangkat menjadi PTT pemda dan untuk persyarakat tersebut korban harus menyediakan anggaran sekitar Rp 40 juta,” terangnya.

Setelah mendapatkan masukan dari pelaku, korban menyanggupi untuk menutup kekurangan biaya sebesar Rp 30 juta kepada pelaku EK untuk mempercepat proses PTT yang dijanjikannya. Dimana pembayaran pelunasan tersebut dilakukan pada12 November 2010. Penantian panjang korban terhadap statusnya pun tak kunjung mendapat kepastian hingga sekarang. Diapun akhirnya memberanikan diri mengadukan kasus tersebut ke mapolres.

Bersama aduan tersbeut korban juga melampirkan fotocopy kwitansi tanda terima uang dari dua pelaku yang sempat menjanjikan proses PTT terhadap korban. Dalam kasus ini pelaku bakal dijerat dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan. Dijadwalkan tim penyidik bakal melakukan pemanggilan tertulis pada dua pelaku untuk dimintai keterangan secara detail terkait kasus tersebut.

Sementara menurut beberapa sumber, antara pelaku yang diduga melakukan penipuan dengan korban sudah melakukan pertemuan dan akan mengembalikan uang tersebut secepatnya. Bahkan hari ini, (Selasa red) rencananya korban akan mencabut berkas ke mapolres.

Oknum Guru Pukul Siswa

Posted: 13 September 2011 in Hukum dan Kriminal

BANJARHARJO – Tindak kekerasan terhadap siswa didik oleh oknum guru di lingkungan sekolah masih terus terjadi. Kali ini menimpa ZH, siswa kelas XII SMAN 1 Banjarharjo. Ia diduga pukul oknum guru di sekolah tersebut saat proses kegiatan belajar-mengajar di dalam ruang kelas.

Arif Rohidin (34), kakak kandung korban Senin (12/9) kepada Radar menuturkan, adiknya ZH pada Kamis, 8 September lalu mengadu pada dirinya kalau baru saja mendapat perlakukan kasar dari salah satu gurunya. Ia mengaku saat korban sedang mengikuti pelajaran agama di kelasnya, guru yang bersangkutan meminta untuk agar ZH menjawab soal yang disodorkan. Namun belum sempat memberikan jawaban, tiba-tiba guru bersangkutan menyatakan kalau korban tidak mungkin bisa menjawabnya.

“Mendengar pernyataan dari gurunya tersebut, adik saya hanya bisa diam. Namun dengan sikapnya yang kasar guru tersebut mendatangi Zaenal dan langsung memukul pada bagian kepala,” ujar Arif.

Ia menuturkan, selain kepada Zaenal, guru yang bernama Subaryono tersebut konon kerap melakukan tindakan serupa kepada siswa lain. Namun sampai dengan saat ini tidak ada pihak warga maupun orang tua siswa yang melaporkan hal tersebut.

Untuk itu selaku wali murid, dirinya meminta kepada pihak sekolah mapun Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes untuk memberikan tindakan kepada oknum guru tersebut. Pasalnya, selain telah melakukan penganiayaan terhadap adiknya, guru yang bersangkutan juga telah merusak mental siswa. “Ini mengingat tindakan tersebut dilakukan di dalam kelas dan disaksikan banyak siswa lainnya,” ujarnya.

Arif juga mengancam apabila hal tersebut dibiarkan begitu saja, maka dirinya akan melaporkan kasus tersebut ke pihak berwajib.

Sementara Kepala SMAN 1 Banjarharjo Muhromin MPd melalui Humasnya Yohanes Rihadi saat ditemui di sekolahnya mengaku, terkait dengan kasus pemukulan tersebut sampai saat ini dirinya tidak mengetahui. Bahkan dirinya baru tahu dari informasi dari rekan media. Namun demikian, pihaknya akan menyampaikan hal tersebut ke kepala sekolah untuk bisa ditindaklanjuti.

“Kami sampai dengan saat ini belum mengetahui adanya tindakan tersebut. Tapi kami akan tetap menindaklanjuti laporan tersebut ke kepala sekolah,” terangnya.

 

PEMALANG, METROPOLISPOS – Lisa siwa kelas 9 SMP Negeri 1 Bantarbolang salah satu pengunjung Widuri Water Park Pemalang (WWP), Minggu (11/9) kemarin sekitar pukul 13.00 WIB dilarikan ke Rumah Sakit Santa Maria akibat mengalami luka sobek di bagian kaki kanannya.

Kecelakaan yang dialami wisatawan lokal itu disebabkan terkena pecahan keramik saat ia bermain di arena kolam arus yang banyak mengalami rusak.

Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun Radar, peristiwa kecelakaan yang dialami Lisa itu bermula saat ia sedang bermain di kolam arus wisata bermain air di WWP bersama teman-temannya. Tiba-tiba di saat sedang asik menikmati mainan air kakinya terpeleset dan terkena pecahan keramik yang banyak terkelupas di bagian bawah arena kolam arus.

Semula tidak terasa sakit namun ketika dilihat telapak kakinya ternyata banyak mengeluarkan darah dan kaget. Sebab lukanya serius karena mengalami sobek. Sementara
teman-temannya yang saat itu melihat kejadian yang dialami Lisa langsung memberikan pertolongan dan melaporkannya ke petugas penjaga.

“Karena lukanya parah akhirnya saya lapor ke petugas agar diobati,” kata Reza teman korban kepada Radar, kemarin.

Setelah itu, petugas penjaga langsung memberikan pertolongan dan mengobatinya namun karena luka yang dialami cukup serius. Luka sobek di bagian telapak kakinya dan darahnya terus mengalir. Akhirnya langsung dilarikan ke Rumah Sakit Santa Maria Pemalang agar segera mendapat penanganan medis.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pemalang Drs Sultanto melalui Kepala UPT WWP ketika dikonfirmasi membenarkan adanya kejadian tersebut dan korban telah mendapat penanganan medis memberikan pengobatan ke rumah sakit.

Terkait kejadian itu, pihaknya bertanggungjawab secara penuh. Adapun penyebab kecelakaan menurutnya di luar dugaan. Karena, sebelumnya persiapan sarana prasaran telah dilakukan.

Dengan melakukan cek di seluruh fasiltas yang ada, namun adanya kejadian tersebut dimungkinkan fasilitas yang ada, sebagian mengalami rusak akibat benturan. Sehingga keramik di kolam arus itu terkelupas dan mengenai kaki pengunjung saat ia sedang bermain.

“Semua fasilitas sudah kami cek dan layak. Tapi adanya kecelakaan itu di luar dugaan,” tandasnya.

Pelaku pembunuhan menceritakan kronologis kejadian.

TEGAL, METROPOLISPOS – Seorang pemuda bernama Ali Dwi Oktaviani (16), asal Jalan Halmahera Kelurahan Mintaragen,  Kecamatan Tegal Timur, yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat kue tape  ini dengan terpaksa berurusan dengan hukum. Bahkan dari aksinya remaja  ini bakal dijerat Pasal 351 KUHP, tentang penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

Aksi fatal ini terjadi di Jalan Abimanyu Kelurahan Slerok,  Sabtu (10/9). Atau tepatnya  sebelah timur Depo Pertamina. Kesempatan  malam minggu sekitar Pkl 23. 00 WIB, mendadak tanpa sebab yang jelas menendang,  Slamet Riyadi (25). Sedang korban malam itu tengah membonceng sepeda bersama seorang temannya, Khalimudin (20).

Sambil mengendarai motor  bersama  kakaknya, Maman, yang kemudian pelaku ini menendang perut korban Slamet Riyadi. Tendangan pelaku ini tepat mengenai lambung korban. Sebelum itu korban sempat terjatuh, dan oleh temannya ini korban akhirnya ditolong kemudian diantar pulang ke Desa  Karanganyar Dukuhturi Tegal, RT 02 RW 03.

Selama perjalanan pulang,  seperti diakaui temannya korban sering mengeluh sakit. Dari sakit yang dialami, dan paginya sekitar Pkl 03.0 WIB,  korban diketahui meninggal dunia.

Menurut Khalimudin, pelaku mengendari sepeda motor melaju sangat kencang. Karena jalanan malam itu sangat sepi. Tapi pelaku bersama motor teman satunya lagi melajunya dengan sig-sag. Ke kenan dan kiri, seperti layaknya balapan.

Melihat ada sepeda motor, yang melaju kencang sehingga pengendara sepeda onthel langsung minggir. Tapi setelah minggir dan tanpa disangkanya menendang perut korban. Sedang antara korban dan pelaku tak saling kenal, seperti umumnya pengguna jalan.

“Setelah minggir dia itu langsung nendang teman saya.  Padahal saya dan teman saya tak tahu apa-apa. Malam itu teman saya itu habis beli HP. Tapi  tiba-tiba saja  ditendang,” kata Khalimudin, kesempatan dimintai keterangan sebagai saksi di Polsek Tegal Timur kemarin.

Kapolres AKBP Haryadi dengan didampingi Kasat Reskrim AKP Heriyanto, dan didampingi Kapolsek Tegal Timur Kompol Teguh Riyanto SE menuturkan, aksi tersebut sebagai perbuatan iseng. Karena antara pelaku dan korban tak saling kenal,  dan tidak ada latar belakang apa pun.

Aksi tersebut datang tiba-tiba, dan pelaku langsung menendang hingga mengenai lambung. “Dan sekarang pelaku baru menyesal. Tapi  kita perlu menunggu hasil otopsi,” kata  AKBP  Haryadi.

Dari keterangan pelaku saat mau melintas, berpapasan dengan mobil. Karena  sempitnya jalan, sehingga langsung menendang orang yang sedang naik sepeda sehingga korban sampai terjatuh. Setelah menendang pelaku bersama sang kakak langsung kabur. Dari informasi pelaku malam itu habis diputus pacarnya. Pelaku ini ditahan karena sempat  dikeroyok oleh warga, dan pelaku langsung  melaporkan apa yang dialami ke kantor polisi setempat. Pada waktu yang bersamaan dari keluarga korban mengabarkan, kalau korban aksi tendang akhirnya meninggal. Siapa yang menendang, dan saksi korban mengatakan, kalau pelakunya adalah orang yang melapor.

SLAWI, METROPOLISPOS – Memasuki berakhirnya Ops PAM kemanusiaan Ketupat Candi 2011 selama arus mudik dan balik lebaran, jajaran Polres Tegal mulai melakukan evaluasi terhadap kinerja jajaran yang didukung instansi terkait selama menjalankan tugas dilapangan. Dari hasil evaluasi tersebut tak bisa dipungkiri untuk musim mudik lebaran tahun ini terjadi lonjakan dari jumlah insiden laka lantas dibanding tahun sebelumnya. Indikasi banyaknya armada kendaraan ranmor yang mengalami peningkatan, faktor humman error pun menjadi penyebab utama terjadinya insiden laka lantas.

Kapolres AKBP Nelson Pardamaian Purba SiK didampingi Paur Subbag Humas Ipda Wahyono dan Kasat Lantas AKP Ivan Hariyat SiK menyatakan selama Ops PAM Ketupat Candi digelar

untuk mengamankan arus mudik dan balik lebaran diwilayah hukumnya sempat terjadi 22 insiden laka lantas. “Dari jumlah tersebut tercatat korban meninggal dunia sebanyuak 14 orang, luka berat  9 orang, luka ringan 15 orang dengan kerugian material mencapai Rp 13.600.000, ” terangnya Rabu ( 7/9). Tak ditampiknya melonjaknya volume kendaraan pemudik tahun ini punya andil yang cukup besar terhadap lonjakan jumlah laka lantas, mengingat secara garis besar kondisi lintasan yang ada dinilainya sudah memenuhi standart minimal.

Insiden laka lantas selama musim mudik dan balik banyak terjadi dilintasan pantura yang menjadi titik lelah pemudik. “Upaya maksimal telah kami antisipasi melalui pemasangan spanduk diareal tersebut agar dipatuhi pemudik yang telah memasuki ambang lelah. Memang bila kondisi lelah dipaksakan akan berakibat fatal dijalanan ditengah semakin padatnya volume kendaraan yang melintas,” cetusnya. Sementara itu aksi kejahatan yang terjadi selama musim lebaran tahun ini justru ada kecenderungan menurun tajam.

Setidaknya selama sepekan lebaran hanya terjadi satu insiden curas yang terjadi di Bojong, satu insiden curanmor, tiga insiden kebakaran, satu insiden gantung diri, dan empat kasus ungkap peredaran gelap narkoba. Dan keduanya juga menyatakan meski dari jumlah angka kecelakaan tahun ini ada kecenderungan mengalami peningkatan, namun dari sisi penindakan pelanggaran berat aturan hukum berlalu lintas justru mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal ini bisa diartikan bahwa kesadaran hukum berlalu lintas pemudik selama Ops PAM lebaran mengalami peningkatan. Dijadwalkan secara serentak Ops PAM Ketupat Candi 2011 akan berakhir dini hari nanti, dan seluruh pos pam dan sub pos pam akan segera dibongkar oleh Polres Tegal.